Aku tertarik untuk membaca buku “The Kite Runner” karena majalah Time memasukkan penulisnya, Khaled Hosseini, sebagai salah satu dari 100 orang yang masuk jajaran “The World Most Influential People”.

Sebelumnya (2006) U.S. office of the United Nations High Commissioner for Refugees juga menganugerahkan Humanitarian of the Year kepada Hosseini untuk bukunya ini.

Sebagai sebuah karya sastra, buku ini memang memiliki bobot yang dalam. But wait, sebagai ideomarketer, kita tidak ingin membahas dari sisi itu. Terlepas dari beragam apresiasi yang diberikan kepada buku ini, ada satu hal yang menarik untuk dicermati.

Entah apakah penulis sudah melakukan riset yang mendalam saat ia menceritakan bagaimana transisi pemerintahan Afghanistan dari satu era ke era yang lain. Hanya saja, ilustrasi yang dipaparkan oleh penulis terkait dengan kondisi kelam Afghanistan di bawah kekuasaan Thaliban menggiring pembaca untuk mengamini satu kesimpulan: tindakan Amerika Serikat menginvasi Afghanistan pasca tragedi 11 September adalah sebuah pilihan yang tepat.

Tak heran penulisnya mendapatkan anugerah sebagai salah satu orang yang paling berpengaruh di tahun 2008, karena sejatinya Hosseini bukan penulis biasa. Terlepas ketidaksepakatan atas gagasan yang dibawanya, dia adalah seorang ideo-marketer!

Rabu 16 Juli 2008, aku kedatangan tamu-tamu istimewa di kantor. Biasanya yang datang ke kantor adalah kalangan businessman yang ingin melakukan konsultasi, pelatihan, ataupun riset pemasaran. Namun kali ini, yang datang adalah mahasiswi-mahasiswi dari Forum Studi Islam (FSI) Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Karena ini bukan bagian dari proyek bisnis, maka pertemuan pun diadakan secara informal. Aku ditemani seorang rekan yang dulu pernah memegang Syariah Unit (yang sekarang sudah dieliminasi).

Maksud kedatangan mereka adalah melakukan konsultasi terkait dengan akan dilaksanakannya event tahunan Shariah Economics Days (SeconD) di FEUI.  Salah satu agenda utamanya adalah Konferensi Nasional tentang Ekonomi Islam. Berdasarkan analisa pelaksanaan SeconD tahun-tahun sebelumnya, panitia akhirnya berkesimpulan bahwa product life cycle SeconD sudah memasuki fase penuaan. Antusiasme peserta menurun, sponsor pun mulai berpikir ulang untuk kembali berpartisipasi.

Jadi mau bagaimana lagi? (more…)

Jawabannya sebenarnya sederhana saja, ideo marketing adalah tentang strategi dan taktik untuk memasarkan ide. Lebih khusus lagi, ide-ide tentang perubahan. Blog ini memang dimaksudkan untuk mewadahi eksperimen kecil-kecilan tentang bagaimana marketing bisa berkontribusi bagi perubahan dunia. Sesuai dengan tagline-nya: “Mempersembahkan Pemasaran untuk Perubahan”.

Kenapa tidak menggunakan istilah “pemasaran ide”?

Hmm, pertanyaan yang sama mungkin juga perlu diajukan kepada Sam Hill dan Glenn Rifkin. Kenapa buku yang mereka tulis diberi judul “Radical Marketing” dan bukan “Non-Traditional Marketing”? Tanyakan juga kepada Kafi Kurnia, kenapa kumpulan artikelnya di majalah Gatra dibukukan dengan judul “Anti Marketing” dan bukan “Kumpulan Artikel Pemasaran”?

Dan kalau masih dirasa kurang, tanyakan juga kepada Pak Wiranto, kenapa partainya diberi nama Hati Nurani Rakyat (Hanura) dan bukan Hati Nurani Oemat Manusia (Hanoman).

Name does matter, Bro and Sis! Itulah kenapa bagi marketer, Shakespeare telah melakukan kesalahan besar saat  berkata; “Apalah artinya sebuah nama”.

Ok, setelah membaca uraian di atas Anda boleh menggut-manggut sambil bergumam: “Dasar orang marketing!”